Sabtu, 01 Januari 2011

REMAJA 13 TAHUN MASUK PESANTREN

Kisah ini menceritakan sebuah peristiwa tentang asmara seorang remaja yang terjadi di belakang Pasar Kalisat. Dibelakang pasar Kalisat ada sebuah pesantren yang bernama PP. Miftahul Ulum. Disana terdapat ratusan santriwan dan santriwati bahkan ribuan. Mulai dari penduduk asli Kalisat sampai dari luar daerah, dimana para orang tua memasrahkan anak-anaknya untuk nyantri dipesantren tersebut.
Jember adalah sebuah Kabupaten diujung timur Jawa sebelum Banyuangi. Disana ada ratusan Kecamatan, salah satunya Kecamatan Kalisat. Daerah Kalisat terdapat satu pasar yang dibelakangnya ada sebuah pesantren. Nama pesantrennya seperti yang sudah saya sebutkan diatas.
PP. Miftahul Ulum merupakan pesantren semi-modern dari salah satu pesantren yang ada di Kabupaten Jember. Pelajaran-pelajaran agama yang diajarkan ke para santri, ada yang menggunakan sorogan ada pula yang memakai klasikal. Dari pagi, sampai menjelang jam 12 malam, hampir-hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk bermain bagi para santri. Semua waktu, diisi dengan aktifitas proses belajar mengajar. Dan hanya menyisakan istirahat untuk makan. Dan pesantren tersebut diasuh oleh seorang Kiai yang bernama Drs. Kiai. Ahmad Rasyidi, Msi dan beberapa saudara beserta Ustadz-ustadz yang membantunya. Semua berperan sesuai dengan fungsinya sendiri-sendiri, begitu juga dengan anak asuhnya, yaitu santri yang menetap disana, berfungsi sebagai pelajar yang harus menimba ilmu. Didalam pesantren seperti layaknya lembaga-lembaga pendidikan lain terdapat sejumlah peraturan yang harus ditepati dan ditaati. Jika diantara sejumlah peraturan ada salah satu dari kalangan santri melanggar, maka akan terkena sangsi dari para pengurus pesantren tersebut.
Peraturan-peraturan tersebut dibuat agar para santri bisa beradabtasi, mematuhi, memelihara, dan menjaga stabilitas aktifitas di pesantren. Namun, ada statmen yang mengatakan ”paturan-peraturan itu untuk dilanggar”, (pernyataan ini muncul ketika udah menjadi mahasiswa tentunya). Menjadi tidak asing lagi dikalangan pesantren ketika peraturan-peraturan yang menimpa kepada salah satu santri yang melanggar, terutama didalam pesantren Miftahul Ulum Kalisat. Mereka menjadikannya sebagai sebuah fenomena yang sudah biasa. Berbeda halnya dari sebagian santri yang lain menganggap hal seperti itu sebagai sebuah aib yang harus dihilangkan dan ditebus dengan meminta maaf kepada pemilik pesantren dan berjanji didepan seluruh para santri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan pesantren lagi.
Miris sekali dan tidak bisa dipungkiri. Ternyata didalam pesantren tersebut sejumlah santri, yang setiap tahunnya pasti ada yang melanggar peraturan-peraturan pesantren. Mulai dari pelanggaran yang ringan sampai pada hal-hal yang berat. Hal seperti ini, memang banyak ditemukan di berbagai pesantren dan lembaga-lembaga formal lainnya. Namun, pembaca harus tahu bahwa tulisan ini tidak untuk menjelaskan persoalan-persoalan pesantren. Dalam tulisan ini penulis mengajak para pembaca melihat perkembangan anak yang mungkin belum sempat dianalisa oleh para peneliti, bahkan para pembaca pun mungkin melupakan yang satu ini.
Benar sekali pendapat yang mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungannya. Sekarang saya ingin mengajak pembaca melihat perkembangan anak di usia remaja, yang setiap harinya menghabiskan waktu di pesantren. Kalau pembaca pernah nyantri atau punya teman yang pernah nyantri tentunya pembaca akan tahu bagaimana nasibnya perkembangan santri di usia remaja. Namun, apabila pembaca belum pernah tahu bahkan sekedar mendengar kata santri pun pembaca belum, maka sangat disayangkan. Saran saya pergilah ke gunung yang dibawahnya ada laut, dan dari atas gunung tersebut pembaca bisa dengan senang hati meloncat kebawah karena tidak pekanya terhadap lingkungan (heee bo’ong kali).
Perkembangan anak-anak di usia remaja di kalangan pesantren perlu mendapat perhatian khusus. Terlepas dari nilai positif maupun negatif terhadap perkembangan anak. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan pesantren. Saya ingin mengajak pembaca melihat subjektifitas fakta di pesantren. Mari kita lihat perkembangan salah seorang santri yang bernama ”Addy”. Apa yang dilakukannya untuk menghabiskan waktu di usia remajanya dipesanren? Apakah Addy ini benar-benar menghabiskan waktu untuk diisi dengan aktifitas belajar? Atau ada hal lain yang dikerjakannya?.
Apabila pembaca memiliki eksistensi seperti apa yang menimpa pada seorang anak yang bernama Addy, maka menjadi wajar, karena semua manusia pasti mempunyai pengalaman-pengalaman unik dalam hidupnya. Apalagi kalau sudah membicarakan asmara dengan lawan jenisnya. Namun, apabila pembaca tidak sama eksistensinya dengan apa yang diperankan oleh Addy, maka pembaca adalah salah satu sosok makhluq yang mungkin menyerupai malaikat.
Kepada pembaca sebelum saya ceritakan apa yang dilakukan Addy, alangkah baiknya kalau pembaca mengambil wudhu terlebih dahulu. Karena dikwatirkan pembaca juga terlarut dalam peristiwa yang menimpa Addy. Nanti, bisa-bisa pembaca mengambil hikmah oops mempraktekkan apa yang dilakukan Addy. Apalagi pembaca masih seumuran jagung. Eh ia, lebih-lebih pembaca itu salah satu santri mana gtu, kan nantinya saya mengajak pembaca pada mungkarat. Hehe