Rabu, 26 Januari 2011

CATATAN KOMUNIKASI ANTARA ADIE "AIR EMBUN" DENGAN KANG ASEP "RUANG BENING"

Pada tanggal 25 Januari 2011 terdapat suatu kejadian menarik antara Adi Air Embun dengan Kang Asep Ruang Bening. Menariknya adalah adanya suatu aktifitas komunikasi antara keduanya lewat sebuah pesan singkat HP, dalam komunikasi tersebut menarik untuk diperhatikan karena setiap kalimat yang diutarakan mengandung makna tersirat.
Hal ini sengaja diungkapkan dan bahkan di posting di Blog ini guna bisa diambil manfaatnya dan sebagai pembelajaran bahwa betapa pentingnya dalam kehidupan ini untuk tidak menyepelekan hal-hal yang dipandang mata sebagai sesuatu yang tidak penting karena orang bijak mengatakan “orang yang luar bisa adalah orang yang dengan sengaja memanfaatkan hal-hal yang biasa menjadi luar biasa”.
Berikut adalah catatan komunikasi antara Adi Air Embun dengan Kang Asep Ruang Bening:
Adie Air Embun : Asssalamu’alaikum Wr. Wb.
Kang, Alhamdulillah pagi ini saya sudah melaksanakan shalat subuh. Mudah-mudahan bisa membersihkan kotoran yang tak terlihat di tubuh ini, bagaimana dengan Kang Asep Ruang Bening, apakah sudah shalat?
Kang Asep : Terima kasih Mas Adie. Njenengan siapa dan alamatnya dimana?
Saya takjub, njenengan menjaga shalat subuh. Alhamdulillah saya tadi juga shubuh-an jam 04.30 di mushalla al-Asyhar.
Adi Air Embun : Kang, sepertinya sekarang ini isi dunia (manusia) sudah tidak saling kenal ya, kamar berdempetan tapi tidak tahu siapa dan dari mana.hehe
Kang Asep : Haha…, saya takjub lagi dengan “Air Embun”-nya!
Semoga bukan karena ada “Air Tawar”. Hehe…,
Sebab ada Air Kamandanu, Air Kehidupan, dan Air Kedirian.
Adie Air Embun : Itulah kehidupan Kang, air saja mempunyai nama yang bermacam-macam. Saya pun hanya ingin menjadi air embun, di pagi hari embun menjadi salah satu pelengkap kesejukan manusia, tetapi saya kuatir Kang, air tidak bisa bercampur dengan minyak, mungkin bermusuhan kali ya. Hehehe.
Kang Asep : Oke. Sepakat. Haha. Di alam bathini, tiada musuh bermusuhan. Semua berhubungan. Berharmoni ria.
Adi Air Embun : Kang, maaf ya. Bukannya bermaksud ikhtilaf dengan “ruang bening”-nya, tetapi apa tidak terlalu dini memaksakan statmen “tidak ada musuh”. Nabi kita kan mewanti-wanti selepas menang berperang dalam sejarahnya, “musuh terbesarmu adalah syaithan”.

Rabu, 19 Januari 2011

KONFLIK MONGOL ISLAM DAN KEHANCURAN BAGHDAD

Makalah ini Disusun
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sejarah Islam Di Asia Tengah
Dosen Pengampu : DR. M. A. Karim, MA. MA

Disusun Oleh :
Adi Kuswanto (05120020)
Muntiasih (05120017)

Fakultas Adab
Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Isla
UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
2008
BAB I
PENDAHULUAN

Ratusan ribu mayat tanpa kepala berserakan dan tumpang tindih memenuhi jalan, parit-parit dan lapangan. Disekitarnya bangunan-bangunan megah dan indah banyak yang tinggal puing-puing dan rerontokan. Asap masih mengepul dari bangunan-bangunan yang dibakar. Tentara dari pangkat rendah sampai tinggi sibuk memenggal kepala ribuan manusia dan kemudian memisahkan kepala yang terpisah dari tubuhnya itu menurut kelompok: kepala wanita, anak-anak, orang tua, dipisahkan satu dari yang lain.sungai dajlah atau Tigrisberubah menjadi hitam deisebabkan tinta ribuan manuskrip yang dilempar ke dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, masjid, madrasah, tempat pemandian dan rumah para bangsawan, toko dan rumah makan semuanya dihancurkan.
Melihat realitas diatas tidak diragukan lagi kebengisan Mongolia dan menjadi kajian daripada para peneliti, begitu juga dalam makalah ini membahas tentang Konflik Mongol Islam dan Kehancuran Baghdad yang dipaparkan secara deskriptif. Mudah-mudahan menarik untuk dikaji bersama.






BAB II
PEMBAHASAN

Deskripsi Wilayah
Asia Tengah merupakan daerah yang membentang dari laut Kaspia di sebelah barat sampai Cina di sebelah timur, dari perbatasan Rusia di sebelah utara sampai perbatasan Pakistan dan Iran di sebelah selatan. Mongolia dan bagian barat Cina termasuk juga ke wilayah Asia Tengah. Masyarakat daerah ini terdiri dari suku-suku Turki di sebelah barat, Mongol di sebelah timur, dan Iran di sebelah selatan. Dalam perjalanan sejarah terjadi percampuran antara suku-suku yang tinggal di sini dan juga suku-suku bangsa lain yang datang dari daerah-daerah lain. Sejak abad ke-10 M sampai dengan abad ke-14 banyak yang berimigrasi ke wilayah kebudayaan Persia dan Arab, begitu juga sebaliknya.
Daerah ini sebagian besar terdiri dari pegunungan dan gurun serta stepa. Sesuai dengan itu, pertanian ladang dan penggembalaan ternak menjadi penghidupan utama. Di masa lampau daerah ini sangat penting dalam sistem perniagaan estafet yang dikenal dengan sebutan jalan Sutra atau sungai Oxus dan Jaxartes, tempat berdirinya kota-kota Bukhara, Samarkand dan Khiva.
Peperangan Dengan Negeri Islam
Sebelum terjadi invasi Mongol, jauh sebelumnya terdapat perkembangan peradaban Islam di Asia Tengah. Perkembangan peradaban Islam di Asia Tengah berkaitan erat dengan perkembangan peradaban Islam di Iran karena wilayah ini sebagai akibat dari penaklukan Arab terhadap Iran dan Transoxania serta perpindahan kalangan pedagang Muslim dan kaum sufi dari wilayah perkotaan ke wilayah padang rumput.
Disisi lain akibat dari kebengisan bangsa Mongol dengan apa yang dicita-citakan dalam tujuan politik liciknya mengakibatkan kehancuran bagi beberapa pemimpin Islam di Asia tengah diantaranya; pertama, ‘Ala al-Din Muhammad yang berusaha membangun kekhalifahan Islam di Iran tetapi oleh Jenderal Hulegu langkah tersebut di anggap sebagai penghinaan karena telah mempersempit wilayah gerak invasinya, akibatnya ‘Ala al-Din Muhammad diserang habis-habisan dan mengalami kekalahan; kedua, putra dari ‘Ala al-Din Muhammad yang bernama Jalal al-Din Mingburnu juga mengalami nasib yang sama yang akibat dari serangan Mongol tak berdaya dan meninggalkan dunia politik menuju dunia sufi sampai mati. Dua tokoh diatas merupakan pemimpin terakhir dari dinasti Khwarazim yang setelahnya riwayat dinasti ini dan Asia Tengah dikuasai oleh penguasa dari timur, orang-orang Mongolia keturunan Jengiz Khan.
Sebenarnya jauh sebelumnya awal permusuhan dan peperangan dengan negeri Islam bermula dari peristiwa tahun 1212 M. pada waktu itu terdapat tiga orang saudagar Bukhara bersama puluhan rombongannya tiba di wilayah Mongol dan menuju Ibukota Karakorum. Entah mengapa, orang-orang Mongol menangkap mereka dan kemudian menyiksanya. Sedangkan barang dagangannya dirampas. Tidak lama setelah peristiwa itu Jengiz Khan mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membeli barang dagangan di Bukhara. Atas perintah Amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap dan dihukum mati. Jengiz sangat marah dan merancang menyerbu kerajaan Khwarizmi dan negeri lain di Asia Tengah. Penyerbuat itu baru terlaksana pada tahun 1219, hanya selisih tiga tahun setelah tentara Mongol menaklukkan seluruh wilayah Cina.
Pada tahun 1227 Jengiz Khan meninggal dunia, sebelum seluruh wilayah Khwarizmi dan Asia Tengah berhasil ditaklukkan. Dia digantikan putranya Ogatai (1229-1241 M). dibawah pimpinannya semakin banyak wilayah taklukkan Mongol. Kekuasaan mereka mencapai sungai Wolga dan Polandia. Sebagian besar orang Mongol telah memeluk agama Budha, namun beberapa bangsawan dan istri mereka ada yang memeluk agama Kristen. Pengganti Ogatai adalah Kuyuk (1246-1249 M), dan Kuyuk digantikan oleh Mangu (1251-1264 M), putra sulung Tulul dan Tulul adalah adik bungsu Ogatai. Pada masa kepemimpinan Mangu inilah terjadi konflik dalam keluarga Jengiz Khan. Entah apa sebabnya, pada suatu hari Mangu menuduh Ogul Ghaimi, bekas permaisuri Ogatai yang beragama Kristen, bermaksud menggulingkan kekuasaannya dan menghasud orang Mongol yang beragama Budha melakukan makar. Ogul Ghaimi dihukum mati dan hampir semua keturunan Ogatai dibunuh. Keputusan tersebut didukung oleh Kubilai Khan, yang telah menjadi Kaisar Cina, dan Hulagu, Cucu Ogatai, Kaidu yang menjadi panglima di Subutai, tidak berhasiil melaksanakan niatnya membalas dendam. Ia malah dipaksa menyerahkan wilayah kemaharajaan Kara Kita (Xinjiang, Cina) kepada Mangu. Sejak itu kekuasaan Mangu menjadi bertambah luas.
Sebenarnya serangan terhadap Baghdad tidak pernah terpikirkan oleh Mangu, sebab disamping tentara Abbasiyah masih dianggap kuat dan berbahaya, beberapa ulama’ yang menjadi penasehat penguasa Mongol dapat meyakinkan bahaya serangan tersebut. Penyerbuan ke Baghdad terjadi setelah Mangu memerintahkan Hulagu membasmi istana benteng Alamut dan wilayah yang dikuasai orang-orang Hassasin, yaitu cabang dari sekte Isma’iliyah. Orang-orang Hassasin sangat berbahaya karena sering merampok dan membunuh para saudagar, termasuk saudagar Mongol.
Ketika mendapat perintah saudaranya itu Jenderal Hulagu juga mendapat pesan khus dari istrinya Dokuz Khatun yang beragama Kristen. Dakus Khatun mempunyai hubungan dengan pemimpin pasukan perang salib yang sedang berperang dengan tentara Islam merebut Yerussalem pada waktu itu, dan berkonspirasi dengan misionaris Kristen untuk menghancurkan kaum muslim. Dia meminta kepada suaminya agar setelah menghancurkan benteng Alamut, segera menaklukkan Iran dan Iraq. Demikianlah sebelum menaklukkan dan membasmi pengikut Hassasin di Allamut. Kemudian dari Transoxania berangkat mengepung Baghdad dengan ribuan tentaranya pada bulan Safar 656 H. membuat pasukan kalah telak dan panglima al-daudar sendiri dari kalangan muslimin kepalanya terpisah dengan badannya. Sedangkan sisa pasukannya menyelamatkan diri ke balik tembok ibukota yang kukuh dan sebagian lagi melarikan diri ke Syiria.





Sekilas Cerita Bangsa Mongol Masuk Islam
Masyarakat Asia Tengah terdiri dari suku-suku Turki di sebelah barat dan Mongol di sebelah timur serta Iran di sebelah selatan. Dalam perjalanan sejarah terjadi percampuran antara suku-suku yang tinggal di sini juga suku-suku bangsa lain yang datang dari daerah-daerah. Sejak abad ke-10 M sampai dengan abad ke-14 M suku-suku Turki banyak yang berimigrasi ke wilayah kebudayaan Persia dan Arab, begitu juga sebaliknya pedagang Persia dan para pemimpin Arab berdatangan ke negeri ini. Bangsa Mongol, pada masa Jengiz Khan (abad ke-13) menyerbu ke wilayah ini sampai ke Eropa Timur dan memasukkan kelompok-kelompok Turki yang ada disini dalam pasukan mereka. Akan tetapi, justru orang-orang Mongol ini kemudian terserap dalam budaya Turki Islam.
Secara formal Bangsa Mongol telah memeluk Islam pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14 yang menjadi kekuatan Muslim paling penting di pusat kawasan-kawasan utama Islam. Akan tetapi, apapun keyakinan resmi mereka terhadap Islam, ideologi utama negara mereka adalah “Mongolisme”, yang bermimpi menaklukkan dunia dan mengagungkan kekuatan kerajaan serta militer Mongol. Seluruh negara dijalankan dengan gaya militer. Raja menjadi Panglima tertinggi dan diharapkan memimpin sendiri anak buahnya, tidak menyerahkan tugas pada wakilnya.
Dalam perjalanan sejarah suatu bangsa sering terjadi sesuatu yang musykil dan tidak pernah terbayangkan. Orang Mongol yang dahulunya merupakan musuh dan seteru sengit orang Islam, pada akhirnya tunduk kepada kepercayaan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Tidak lama setelah jatuhnya kota Baghdad itu telah banyak bangsawan dan pemimpin Mongol secara diam-diam memeluk Islam. Pada awal abad ke-14, belum seratus tahun maklumat permusuhan terhadap umat Islam diumumkan oleh founding father mereka Jengiz Khan, sebagian besar orang Mongol di negeri kaum muslimin telah dirasuki agama Islam dan kebudayaan masyarakatnya. Namun demikian, semua itu berjalan dalam proses yang berliku-liku. Sebelum berbondong-bondong memeluk Islam mereka telah menjadi penganut Syamanisme dan Budhisme yang fanatik. Usaha misionaris Kristen untuk mengkristenkan mereka bahkan hampir berhasil lebih dari dua tiga kali. Beberapa pemimpin Mongol bahkan telah menjalin kerja sama dan konspirasi dengan raja-raja Eropa.
Di antara, pemimpin Mongol pertama yang memeluk Islam adalah Barkha Khan (1256-1266 M), cucu Jengiz Khan dari putranya Juchi Khan, yang menguasai Eropa timur dan tengah dan berkedudukan di Sarai, lembah Wolga. Dia dan para pengikutnya memeluk Islam pada tahun 1260 berkat dakwah para ulama’ sufi yang berada di daerah tersebut.pada tahun itu juga Barkha mengirim ribuan tentaranya untuk membantu sultan Baybars di Mesir yang sedang menghadapi serangan Hulagu Khan dan tentara Salib. Dalam pertempuran di Ain Jalut pasukan Hulagu dapat dihancurkan. Sejak itu agama Islam berkembang pesat. Adapun keturunan Hulagu Khan sendiri menempuh jalan berliku-liku sebelum masuk Islam. Ulam’-ulama’ Islam juga tidak hanya bersaing dengan misionaris Kristen, tetapi bersaing pula dengan sesama mereka,
Pengganti Hulagu Khan yaitu Abagha (1265-1282 M) memeluk Kristen berkat bujukan ibunya Dokuz Khatun. Dalam istananya banyak pendeta Kristen tinggal, diantaranya sebagai penasehat politik. Pada tahun 1274, Abagha mengirim utusan khusus menghadiri Konsili Lyon. Dia sering berkirim-kiriman dengan Raja Louis (1266-1270 M) dari Prancis dan Raja Charles I (1268-1285 M) dari Sicilia. Tetapi Malan, Putra Abagha, yang menggantikan ayahnya dan sejak kecil telah memeluk agama Kristen, yaitu Tagudar menjelang dewasa memeluk Islam. Dia menyebut dirinya sebagai Sultan Muhammad Tagudar Khan. Namun karena tindakannya memberi peluang terlalu besar bagi perkembangan Islam, dia diadukan oleh tokoh masyarakat Mongol kepada Kubilai Khan di Khanbalik, Cina. Perebutan kekuasaan segera terjadi di bawah pimpinan Arghun, saudara kandung Tagudar. Dalam peristiwa itu Tagudar mati dibunuh.
Setelah naik tahta, Arghun segera menyingkirkan pembesar-pembesar Islam dari kedudukan penting mereka. Mereka digantikan oleh pembesar beragama Budha dan Kristen. Pengganti Arghun, yaitu Baidu Khan. Pada kepemimpinan Baidu Khan terjadi peristiwa paling bersejarah, putranya yang menggantikan dia, Ghazan Khan walaupun sejak kecil dididik sebagai penganut Budhis yang fanatik, ketika naik tahta menyatakan masuk Islam. Peristiwa tersebut merupakan kemenangan besar Islam.






BAB III
PENUTUP
Demikianlah makalah ini dibuat tentang apa sesungguhnya yang terjadi di Asia Tengah terutama pada masa Mongolia yang telah memberikan sebuah catatan hitam dalam lembaran sejarah peradaban. Dahulunya bangsa Mongol memang dikenal sebagai sebuah bangsa yang memiliki keberanian dan kenekatan yang puncak puncak kejayaannya berada di Tangan Jengiz Khan sampai beberapa generasi dibawahnya. Keberadaan, kekejaman, maupun kebengisan tidak akan terlupakan dalam sejarah peradaban, walaupun cucunya belakangan dianggap dapat menebus kesalahan-kesalahan kakeknya namun hancurnya peninggalan-peninggalan sejarah dalam sebuah peradaban mungkin tidak akan dapat terlupakan.












DAFTAR PUSTAKA
Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian kesatu & dua. Jakarta, PT RajaGrafindo Persada. Cetakan II, 2000.
Editor: Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta, Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga Bekerjasama Dengan LESFI Yogyakarta.
Karen Armstrong, Islam: Sejarah Singkat. Yogyakarta, Jendela. Cetakan keempat 2003.
http://konflikmongolislam.//jengiskhan.com

Selasa, 18 Januari 2011

TAHAP-TAHAP MASUKNYA ISLAM KE INDIA

Ada 4 periode:
I. Periode Nabi Muhammad saw
- Islam masuk ke India lebih banyak melalui jalur informal
- Nabi telah mengetahui daerah India dari para pedagang
- Pembantu Aisyah istri Nabi berasal dari India
- Istri beliau bernama Hind berasal dari India
- Tahun 630-631 M Nabi berhubungan dengan luar dengan cara mengirim utusan dan menerima kunjungan baik dari dalam maupun luar negeri
II. Periode Khulafaurrasyidin dan Dinasti Umayah
1) Umar bin Khattab
- Tahun 637-638 M
2) Utsman bin Affan
3) Ali bin Abi Thalib
4) Dinasti Umayah
III. Periode Diansti Ghazni
IV. Periode Dinasti Ghuri

Senin, 17 Januari 2011

Masyumi menjelma sebagai Partai Politik

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Nahdlatul Ulama' yang dibubarkan oleh penjajah Jepang bangkit kembali dan mengajak kepada seluruh ummat Islam Indonesia untuk membela dan mempertahankan tanah air yang baru saja merdeka dari serangan kaum penjajah yang ingin merebut kembali dan merampas kemerdekaan Indonesia.

Rais Akbar dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama', Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, mengeluarkana fatwa bahwa mempertahankan dan membela kemerdekaan Indonesia adalah wajib hukumnya.

Seruan dan ajakan NU serta fatwa dari Rais Akbar ini mendapat tanggapan yang positif dari ummat Islam; dan bahkan berhasil menyentuh hati nurani arek-arek Surabaya, sehingga mereka tidak mau ketinggalan untuk memberikan andil yang tidak kecil artinya dalam peristiwa 10 November '45

Pengurus Besar NU hampir sebulan lamanya mencari jalan keluar untuk menanggulangi bahaya yang mengancam dari fihak penjajah yang akan menyengkeramkan kembali kuku-kuku penjajahannya di Indonesia.

Kelambanan NU dalam hal tersebut disebabkan karena pada masa penjajahan Jepang NU hanya membatasi diri dalam pekerjaan-pekerjaan yang bersifat agamis,sedang hal-hal yang menyangkut perjuangan kemerdekaan atau berkaitan dengan urusan pemerintahan selalu disalurkan dengan nama Masyumi.

Atas prakarsa Masyumi, di bawah pimpinan KH. Abdul Wahid Hasyim, maka Masyumi yang pada masa penjajahan Jepang merupakan federasi dari organisasi-organisasi Islam, mengadakan konggresnya di Yogyakarta pada tanggal 7 November 1945. Pada konggres tersebut telah disetujui dengan suara bulat untuk meningkatkan Masyumi dari Badan Federasi menjadi satu-satunya Partai Politik Islam di Indonesia dengan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama' sebagai tulang punggungnya. Adapun susunan Dewan Pimpinan Partai Masyumi secara lengkap adalah sebagai berikut:

Majlis Syura (Dewan Partai)
Ketua Umum : Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
Ketua Muda I : Ki Bagus Hadikusuma
Ketua Muda II : KH. Abdul Wahid Hasyim
Ketua Muda III : Mr. Kasman Singodimejo
Anggota : 1. RHM. Adnan.
2. H. Agus Salim.
3. KH. Abdul Wahab Hasbullah.
4. KH. Abdul Halim.
5. KH. Sanusi.
6. Syekh Jamil Jambek
Pengurus Besar
Ketua : Dr. Sukirman
Ketua Muda I : Abi Kusno Tjokrosuyono
Ketua Muda II : Wali Al Fatah
Sekretaris I : Harsono Tjokreoaminoto
Sekretaris II : Prawoto Mangkusasmito
Bendahara : Mr. R.A. Kasmat

Nahdlatul Ulama Memisahkan Diri Dari Masyumi
Perpecahan yang terjadi dalam tubuh Partai Masyumi benar-benar di luar keinginan Nahdlatul Ulama'. Sebab Nahdlatul Ulama' selalu menyadari betapa pentingnya arti persatuan ummat Islam untuk mencapai cita-citanya. Itulah yang mendorong Nahdlatul Ulama' yang dimotori oleh KH.Abdul Wahid Hasyim untuk mendirikan MIAI, MASYUMI, dan akhirnya mengorbitkannya menjadi Partai Politik. Bahkan Nahdlatul Ulama' adalah modal pokok bagi existensi Masyumi, telah dibuktikan oleh Nahdlatul Ulama' pada konggresnya di Purwokerto yang memerintahkan semua warga NU untuk beramai-ramai menjadi anggauta Masyumi. Bahkan pemuda-pemuda Islam yang tergabung dalam Ansor Nahdlatul Ulama' juga diperintahkan untuk terjun secara aktif dalam GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia).

Akan tetapi apa yang hendak dikata, beberapa oknum dalam Partai Masyumi berusaha dengan sekuat tenaga untuk menendang NU keluar dari Masyumi. Mereka beranggapan bahwa Majlis Syura yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam Masyumi sangat menyulitkan gerak langkah mereka dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersifat politis. Apalagi segala sesuatu persoalan harus diketahui / disetujui oleh Majlis Syura, mereka rasakan sangat menghambat kecepatan untuk bertindak. Dan mereka tidak mempunyai kebebasan untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan politik. Akhirnya ketegangan hubungan antara ulama'/kyai dengan golongan intelek yang dianggap sebagai para petualang yang berkedok agama semakin parah. Karena keadaan semacam itu, maka para pemimpin PSII sudah tidak dapat menahan diri lagi. Mereka mengundurkan diri dari Masyumi dan aktif kembali pada organisasinya; sampai kemudian PSII menjadi partai.

Pengunduran diri PSII tersebut oleh pemimpin-pemimpin Masyumi masih dianggap biasa saja. Bahkan pada muktamar Partai Masyumi ke-IV di Yogyakarta yang berlangsung pada tanggal 15 - 19 Desember 1949, telah diputuskan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Majlis Syura yang semula menjadi dewan yang tertinggi diubah menjadi Penasihat yang tidak mempunyai hak veto; dan nasihatnya sendiri tidak harus dilaksanakan.

Sikap Masyumi yang telah merendahkan derajat para ulama' tersebut dapat ditolelir oleh warga Nahdlatul Ulama'. Namun PBNU masih berusaha keras untuk memperhatikan persatuan ummat Islam. Nahdlatul Ulama' meminta kepada pimpinan-pimpinan Masyumi agar organisasi ini dikembalikan menjadi Federasi Organisasi-Organisasi Islam, sehingga tidak menyampuri urusan rumah tangga dari masing-masing organisasi yang bergabung di dalamnya. Namun permintaan ini tidak digubris, sehingga memaksa Nahdlatul Ulama' untuk mengambil keputusan pada muktamar NU di Palembang, tanggal: 28 April s/d 1 Mei 1952 untuk keluar dari Masyumi, berdiri sendiri dan menjadi Partai.

Rabu, 12 Januari 2011

Bahaya Kartel Politik

Perilaku penguasa seperti yang digambarkan oleh Sri Mulyani baru-baru ini sungguh mencemaskan. Para pejabat sering terlibat dalam konflik kepentingan. Mereka tak bisa memisahkan secara tegas kepentingan negara dari kepentingan bisnis keluarga atau kelompoknya. Inilah yang membuat perempuan cerdas itu kerap terjepit, dimusuhi, bahkan akhirnya “dipaksa” mundur dari kursi Menteri Keuangan.

Tekanan yang sulit dilawan itu merupakan buah kolaborasi para elite penguasa, juga pengusaha, yang bersekutu membentuk kartel politik. Sri Mulyani menyebut fenomena ini “kawin politik”. Banyak orang melihat, kekuatan mereka muncul antara lain dalam bentuk manuver politik menggelindingkan kasus penyelamatan Bank Century. Tapi, setelah kepentingan mereka terpenuhi, tekanan ini pun berhenti.

Lihatlah, misalnya, perilaku Partai Golkar. Partai yang begitu gencar menyoal kasus Century ini tiba-tiba menyatakan rela menyetop serangannya setelah Sri Mulyani mundur. Tak lama kemudian, ketua umumnya, Aburizal Bakrie, pun diangkat sebagai Ketua Harian Sekretariat Gabungan Partai Koalisi.

Manuver Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merangkul pemimpin partai politik terbesar kedua ini jelas mengarah pada pengkartelan politik. Merujuk pada David Slater (Geopolitics and the Postcolonial, 2004), kartel politik merupakan bentuk relasi antarelite politik yang dicirikan dengan kolusi antarelite. Ciri lain adalah minimnya kekuatan oposisi, dan terlindungnya para elite tersebut dari mekanisme akuntabilitas.

Dengan hanya menyisakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Hanura, dan Partai Gerindra sebagai oposisi, praktis Presiden Yudhoyono tak lagi khawatir akan adanya gangguan politik hingga pemerintahannya berakhir pada 2014. Tapi “poligami” politik ini amat berbahaya bagi demokrasi kita. Kekuasaan negara yang terlalu besar, seperti yang terjadi di zaman Orde Baru, bisa saja kembali. Pemerintahan, seperti yang dicemaskan Sri Mulyani, bahkan bisa jatuh ke tangan “penguasa-pengusaha”.

Masyarakat awam tentu tahu bahwa Grup Bakrie punya masalah pajak dalam jumlah tak sedikit. Penyelesaian kasus lumpur Lapindo sampai sekarang juga belum tuntas. Tampilnya Aburizal di posisi strategis dalam Sekretariat Gabungan Partai Koalisi, apalagi jika ia memiliki kewenangan memanggil menteri, jelas berpotensi menciptakan konflik kepentingan yang mestinya dihindari. Jalannya pemerintahan harus bersih dari “transaksi” politik yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Praktek yang tak sehat seperti itu lazim terjadi pada era pemerintahan Soeharto. Masyarakat menyebutnya korupsi-kolusi-nepotisme. Gerakan mahasiswa 1998 kemudian menjungkirkan rezim yang tak bersih dari KKN itu. Jangan heran jika Yudhoyono pun bertekad memerangi kolusi antara kepentingan bisnis dan politik ketika ia berkuasa.

Hingga kini sebenarnya Presiden masih sering menyampaikan tentang bahaya praktek kotor itu bagi negara. Tapi sayangnya itu hanya sebatas wacana, karena tak ada langkah serius untuk memeranginya. Dengan terpentalnya Sri Mulyani, yang terjadi justru sebaliknya. Istana seolah semakin takluk kepada kekuatan yang membahayakan demokrasi sekaligus upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih itu.




http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/05/20/krn.20100520.200938.id.html

Selasa, 11 Januari 2011

Menggugat Kecenderungan Politik Kartel Indonesia

oleh Dwiki Setiyawan

Menggugat Politik Kartel dari kiri Burhanuddin Muhtadi, Kuskridho Ambardi, Ganjar Pranowo, Syamsuddin Haris dan Dradjat Wibowo (dwiki file)

SEMENJAK reformasi bergulir pasca kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, partai-partai politik di Indonesia cenderung membentuk sistem kepartaian yang mirip kartel. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan adanya lima ciri kartel dalam sistem kepartaian di Indonesia, yakni: (1) Hilangnya peran ideologi partai sebagai faktor penentu perilaku koalisi partai; (2) Sikap permisif dalam pembentukan koalisi; (3) Tiadanya oposisi; (4) Hasil-hasil pemilu hampir-hampir tidak berpengaruh dalam menentukan perilaku partai politik; dan (5) Kuatnya kecenderungan partai untuk bertindak secara kolektif sebagai satu kelompok. Kelima ciri tersebut, khususnya yang kelima, berlawanan dengan sifat umum sistem kepartaian yang kompetitif.

Demikian gugatan yang dilontarkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Kuskridho Ambardi, salah seorang narasumber, pada diskusi buku “Mengungkap Politik Kartel” di Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta, Selasa siang (27/10). Diskusi buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) itu juga menghadirkan narasumber lainnya: Priy0 Budi Santoso (Wakil Ketua DPR-RI/Politisi Partai Golkar), Ganjar Pranowo (Wakil Ketua Komisi II DPR/Politisi PDI Perjuangan), Dradjat Wibowo (Politisi PAN), dan Syamsuddin Haris (Peneliti LIPI). Bertindak sebagai moderator, peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi.

Lebih lanjut Kuskridho mengungkapkan, partai politik di Indonesia cenderung berkolusi ketimbang berkompetisi. Mereka membentuk sebuah kelompok yang memiliki kecenderungan untuk melayani diri sendiri dibandingkan secara individual mencoba mewakili beragam kepentingan kolektif yang ada di masyarakat.

“Kompetisi antar partai politik yang hadir dalam arena politik menghilang begitu partai politik memasuki arena pemerintahan (pembentukan kabinet) dan arena legislatif. Komitmen ideologis dan programatik partai memudar saat mereka membentuk koalisi pemerintahan,” papar Kuskridho yang meraih gelar Doktor Ilmu Politik dari The Ohio State University pada 2008 itu.

Untuk menguatkan argumen dimaksud, katanya, koalisi yang terbentuk pun tampil sebagai koalisi bongsor (oversized coalition) yang dibarengi dengan absennya partai politik yang menjalankan fungsi oposisi.

“Penyebabnya, partai-partai tersebut secara kolektif memiliki kepentingan untuk menjaga kelangsungan hidup mereka, yakni untuk membiayai kegiatan-kegiatan politiknya. Untuk keperluan memobilisasi dana politik itulah mereka secara bersama melakukan kolonisasi terhadap kabinet pemerintahan dan kepemimpinan DPR karena posisi-posisi itu menyediakan rente ekonomi,” tandas pengajar Fisipol UGM tersebut.

Sementara itu, Peneliti LIPI Syamsuddin Haris, menguatkan temuan-temuan mencengangkan dari buku yang berasal dari disertasi doktor Kuskridho Ambardi tersebut. Menurut Syamsuddin, gejala kartel terjadi di semua lini kehidupan politik. Hal yang demikian semakin diperparah oleh sikap masyarakat yang pragmatis. Karenanya mau tidak mau dan suka atau tidak suka, partai politik pun dituntut untuk menyediakan dana-dana politik dari kegiatan rente ekonomi.

Syamsuddin juga mengakui, pendanaan politik dari partai-partai yang ada menunjukkan gejala tidak sehat. Dan sumbernya pun berasal dari kalangan-kalangan terbatas. “Berpolitik memang memerlukan dana besar. Namun perlu juga dibarengi bahwa dana politik itu sumbernya bersih. Bukan sumber abu-abu dan hitam.”

Dikatakannya pula, di Indonesia ini politik belum dimaknai sebagai pengabdian. Namun oleh beberapa kalangan dijadikan batu loncatan untuk mendapatkan status lebih tinggi, sembari memupuk kapital yang lebih besar. “Saya akan kutip kata-kata Bung Hatta bahwa jangan sampai terjadi partai politik menjadi tujuan, sedangkan negara hanya menjadi alatnya” ujarnya mengingatkan. (DSK: Dwiki Setiyawan Kompasiana)




http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/10/27/menggugat-kecenderungan-politik-kartel-indonesia/

Kembalinya Politik Kartel

Ditulis oleh Gun Gun Heryanto

Dinamisasi politik terus menimbulkan riakan-riakan opini publik.Berbagai kasus sambungmenyambung seolah menjadi penanda bahwa fase turbulensi belum usai.Polemik terakhir terkait dengan pembentukan Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi yang telah menahbiskan Aburizal Bakrie (Ical) sebagai ketua harian.

Ada tiga hal yang menyebabkan polemik itu mencuat.Pertama, momentum pembentukan Setgab yang persis dilakukan pasca pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan.Kedua, terkait dengan skeptisme publik atas posisi penyelesaian akhir kasus Century.Ketiga, bergulirnya kekhawatiran terhadap pembentukan Setgab yang sangat mungkin menguatkan kembali politik kartel di era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam perspektif komunikasi politik, momentum adalah pesan politik itu sendiri.Saat elite memainkan the game of words dengan menyatakan seribu kata manis dan saling mengapresiasi lawan politiknya, substansi pertarungan sesungguhnya dapat kita temukan di momentum yang menjadi setting tindakan aktor.

Pengunduran diri Sri Mulyani yang penuh puja-puji mulai dari SBY hingga elite partai yang kerap berseberangan hanyalah realitas semu yang disebarkan melalui realitas simbolik media massa.Sejumlah permainan kata-kata tersebut, misalnya, menyebut Sri Mulyani Srikandi yang akan mengharumkan negeri , sesungguhnya apa realitas di balik itu?Berbagai indikasi kuat menunjukkan momentum pengunduran diri Sri Mulyani ini semacam altar pengorbanan.

Siapa yang paling diuntungkan? Golkar dan Ical.Sudah bukan rahasia lagi jika hubungan Sri Mulyai dan Ical kerap bermasalah, terutama saat Sri Mulyani mengutak-atik soal pajak bisnis Ical.Polemik yang mencuat di media massa itu cukup menjadi penunjuk ke mana langkah Ical dengan mesin Golkarnya akan mengarah.Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan banyak pihak mengenai motivasi utama Partai Golkar yang turut naik dalam perahu opsi C. Momentum Hak Angket Pansus Century benar-benar sukses menjadi momentum reality show kepiawaian Golkar bermain bola billiard.Hasilnya, Sri Mulyani pun harus rela mundur teratur dengan skenario jalan tengah yang seolah-olah terhormat untuk berkantor di Washington DC.

Drama belum berakhir, ibarat pepatah habis Sri Mulyani mengundurkan diri, terbitlah Setgab.Oleh karenanya, teramat sulit logika kita membantah, keterhubungan prosesi pengunduran diri Sri Mulyani dengan zona of possible agreement yang disepakati antara elite Golkar.Terlebih, Ical pun melenggang ke puncak hierarki Setgab bersama-sama SBY. Posisi sebagai Ketua Harian sangat strategis dalam mewarnai dan menentukan arah pemerintahan SBY ke depan.

Penyelesaian Century
Imbas dari bersepakatnya para elite, terutama yang tergabung dalam mitra koalisi, dalam zona of possible agreement melalui setgab ini bukan tanpa konsekuensi.Sulit ditepis bahwa salah satu variabel utama yang menjadi alat bargaining elite di balik kelahiran Setgab adalah prahara Century.

Tentu , SBY mengevaluasi satu masalah besar yang membuat tersendatnya laju perahu Kabinet Indonesia Bersatu II adalah ganjalan kasus Century.Peran antagonis oposisional yang ditiupkan oleh PDIP selaku partai di luar pemerintahan, dengan sigap disambut beberapa partai koalisi.Golkar dan PKS menjadi partai koalisi yang paling eksplosif menjadikan kasus Century sebagai tekanan. Hasilnya, opsi C pun diraih, dan bola panas lantas dilempar ke KPK.Liputan media massa yang masif, telah memberi pencitraan positif bahwa mereka yang berkoalisi pun atas nama kepentingan rakyat tetap dapat bersuara lantang.

Saat itu, para elite Golkar menyatakan koalisi tak menghalangi sikap kritis Partai Golkar jika ada penyelewengan yang merugikan rakyat.Tinggallah Partai Demokrat yang terpojok, seolah ragu meramu mitra koalisi yang mulai keropos. Lagilagi, Century menjadi alat ampuh untuk ditabuh. Bisingnya tabuhan pun menelan korban, Sri Mulyani mengundurkan diri. Seiring pengunduran diri Sri Mulyani, sikap Golkar pun mulai senyap dan kian menepi untuk tak lagi menabuh kasus Century di tengah gelanggang.

Kartelisasi Politik
Stabilitas politik bagimanapun memang dibutuhkan.Oleh karenanya , demi stabilitas inilah maka infrastruktur yang mapan menjadi sebuah keniscayaan.Jika kita runut, berbagai persoalan krusial bangsa ini mengemuka dan menjadi prahara karena ketidakjelasan pelembagaan politik. Misalnya ketidakjelasan sistem presidensial yang menjadi pilihan. SBY harus melakukan politik akomodasi terhadap berbagai kekuatan politik yang ada di sekitarnya. Pilihan koalisi besar pun pada akhirnya tidak efektif, misalnya saat kasus Century bergulir dan menjadi bola liar.

Kemasan argumentasi yang dikemukakan untuk menjawab skeptisme publik atas pembentukan Setgab juga merujuk pada alasan kebutuhan infrastruktur yang mapan.Tentu, argumentasi tersebut tampak relevan, karena kenyataannya memang pelembagaan koalisi dibutuhkan untuk menjamin sebuah pemerintahan yang stabil. Namun, benarkah momentum pembentukan setgab ini karena cita-cita mulia untuk stabilitas pemerintahan yang manfaatnya akan dirasakan bangsa Indonesia?

Lagi-lagi, konteks di balik pembentukan Setgab itulah yang tak cukup meyakinkan logika kita menerima motif para elite. Jika memang pelembagaan koalisi itu dibutuhkan untuk menopang pemerintahan, seyogianya SBY dan elite pemimpin partai mitra koalisi melakukan hal ini sejak awal pemerintahan bergulir.Tidak seperti sekarang, Setgab muncul justru di episode yang sudah berdarah-darah hasil pertarungan para elite untuk memuluskan urusan politik who gets what when and how? Risikonya, persoalan-persoalan nyata pelanggaran yang telah mulai terbuka seperti kasus Century dan kasus pajak akan diselsaikan secara adat.

Dengan demikian, pembentukan Setgab juga berpotensi menguatkan kembali politik kartel.Pelembagaan koalisi bukan merujuk pada manfaatnya untuk rakyat tapi guna meminimalisasi persaingan politik atau bahkan meniadakan kompetitor.Politik dikuasai oleh segelintir elite sehingga melahirkan monopoli untuk mengamankan agenda-agenda terbuka maupun tersembunyi dari elite-elite yang berada di puncak hierarki koalisi itu. Menurut Dan Slater dalam tulisannya Indonesia’s Accountability Trap: Party Cartel and Presidential Power after Democratic Transition (2004), Indonesia kerap terjebak dalam politik kartel yang melahirkan situasi kolusi demokrasi (collusive democracy).

Jika Setgab ini lebih memintangkan agenda pragmatis para elite, maka sudah barang tentu politik kartel yang menyebabkan kolusi demokrasi ini akan kembali menguat.Oleh karenanya, kritisisme layak kita alamatkan ke Setgab ini, agar rakyat selaku pemilik mandat tak selalu berada dalam kesadaran palsu.***

Tulisan ini telah dipublikasikan di Koran Jakarta, Jum’at 21 Mei 2010
Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute.
http://www.uinjkt.ac.id/index.php/section-blog/28-artikel/1462-kembalinya-politik-kartel.html

Senin, 10 Januari 2011

Tips Menentukan Gaji dalam Interview

Setelah berhasil melewati beberapa tahapan wawancara kerja, besar kemungkinan anda akan diterima di perusahaan tersebut. Maka yang harus anda lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan, "Berapa gaji yang anda inginkan ?" Negoisasi gaji adalah salah satu bagian tersulit dalam mendapatkan pekerjaan. Jika meminta jumlah yang terlalu besar, perusahaan mungkin akan mengurungkan niatnya merekrut anda. Sebaliknya, jika jumlah yang anda minta terlalu rendah, mungkin anda akan diterima, namun gaji yang didapatkan dibawah standar yang seharusnya dibayarkan perusahaan tersebut.
Setelah bekerja selama beberapa waktu, lalu anda mengetahui fakta tersebut, pastilah anda akan merasa kecewa. Dan solusinya adalah meminta kenaikan gaji, dan hal ini bukanlah proses yang mudah. Untuk "memenangkan" negosisasi gaji pada saat interview, ikuti petunjuk berikut :

PERATURAN NO. 1 : Dapatkan Informasi

Sebelum wawancara, manfaatkan networking anda. Anda bisa mendapatkan informasi dari teman atau senior anda yang bekerja di perusahaan tersebut/industri serupa, terutama untuk divisi atau posisi yang sama. Sumber lain adalah internet atau tabloid yang memuat mengenai survey/informasi gaji.

PERATURAN NO. 2 : Mendengarkan

Di awal wawancara, jangan pernah langsung menyebutkan berapa gaji yang anda inginkan. Semakin lama anda "menunda", maka semakin banyak informasi yang bisa didapatkan untuk "memenangkan" negoisasi gaji. Langkah awal, pada saat wawacara, anda sebaiknya "mencari tahu" dari sang pewawancara, ada berapa banyak kandidat untuk posisi tersebut, dan telah berapa lama lowongan tersebut dibuka. Jika lowongan tersebut telah dibuka dalam waktu yang lama, ada kemungkinan perusahaan kesulitan untuk mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi. Jika anda high qualified, mungkin anda bisa mendaptkan nominal yang dinginkan.

PERATURAN KE 3 : Berlatih

Anda boleh menyebutkan sejumlah angka pada saat bernegoisasi. Tetapi jangan terlalu tinggi dari standar gaji yang berlaku untuk industri/perusahaan tersebut. Jika ini terjadi, pewawancara malah menganggap anda tidak serius. Ini berarti anda kehilangan kesempatan. Jika anda menginginkan sejumlah nominal yang tinggi untuk gaji anda, katakanlah sejumlah gaji pada top range, tunjukkah bahwa kualifikasi anda memang pantas untuk itu. Sebelum hari wawancara, anda bisa mempersiapkan "pidato" selama 1-2 menit yang mendeskrisikan apa yang anda bisa berikan untuk perusahaan jika anda diterima bekerja di tempat tersebut. Satu hal yang harus dingat, pada saat perusahaan memberikan penawaran, anda tidak harus memberikan jawaban saat itu juga. Anda bisa minta waktu untuk mempertimbangkan semuanya dalam mengambil keputusan. Jika tawaran perusahaan lebih rendah dari yang anda harapkan, anda bisa saja menolak.
Apalagi pada saat bersamaan, ada tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahan lain. Namun, ada hal lain yang patut dipertimbangkan, apakah posisi yang ditawarkan nerupakan langkah strategis untuk perkembangan karir anda.

BEBERAPA SITUASI DALAM NEGOSISASI GAJI

--- . Perusahaan melakukan "secreening phobe call"
Yang harus anda lakukan adalah bertanya dengan sopan mengenai kisaran gaji untuk posisi tersebut.
Jika si penelpon tidak memberikan informasi untuk hal tersebut, anda sebaiknya merespon dengan mengatakan, "Berdasarkan informasi yang saya dapatkan mengenai standar gaji untuk industri ini, mencakup gaji pokok, lembur, training, dan fasilitas yang ada, asuransi kesehatan, biaya perjalanan, jenjang karir, bonus, komisi, dan jenis profit sharing lainnya, gaji yang saya inginkan berkisar Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- (berikan kisaran yang luas). Saya bersedia
datang untuk wawancara pada hari X jam Y. Apakah Bapak/ibu bersedia mempertimbangkan ?.

-- . Jika pewawancara mengajukan pertanyaan mengenai gaji pada saat awal wawancara, anda
punya 3 pilihan :

* Berusaha menunda negoisasi dengan mengatakan, "Saya melamar untuk posisi ini karena
sangat tertarik akan bidang ini dan perusahaan anda. Tetapi saya rasa saya baru bisa
membahas masalah gaji dengan anda setelah kita berdua "yakin" bahwa saya memang
memenuhi kualifikasi untuk posisi ini."

* Memberikan respon yang tidak spesifik dengan mengatakan, "Selama saya dibayar sesuai
standar perusahaan anda dan tanggung jawab yang harus saya penuhi untuk posisi ini, saya
rasa tidak ada masalah."

* "Membalikkan" pertanyaan kepada pewawancara. Jika pewawancara melontarkan pertanyaan
di awal wawancara , "Jika anda diterima bekerja di sini, berapa gaji yang anda inginkan ?".
Maka anda bisa menjawab seperti ini, "Saya sangat tertarik untuk berkerja di sini, menjadi
bagian dari perusahaan ini. Tetapi sebelumnya saya ingin mengetahui, untuk kualifikasi
kandidat dengan latar pendidikan dan keahlian seperti saya, berapakah standar gaji di
perusahaan ini ?".

-- Negoisasi gaji di pertengahan wawancara --

* Perusahaan menawarkan gaji dalam kisaran yang sesuai/bisa anda terima. Pewawancara
mengatakan, "Gaji untuk posisi ini berkisar dari Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- Apakah anda
bersedia menerima tawaran ini ?. Yang harus anda katakan, "Saya sangat menghargai tawaran
ini.
Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di
perusahaan ini. Jumlah yang anda sebutkan tadi adalah yang seperti saya harapkan untuk gaji
pokok, ditambah dengan beberapa aspek lainnya seperti asuransi, uang lembur, dan fasilitas
lainnya.

* Anda hanya tertarik pada top range dari gaji yang di tawarkan. Yang harus anda katakan,
"Terimakasih atas tawaran anda untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya yakin berbagai
keahlian yang saya miliki merupakan benefit bagi perusahaan ini. Berdasarkan apa yang saya
ketahui mengenai standar gaji dan penawaran dari perusahaan lain, saya harus mengatakan
bahwa saya hanya bisa mengatakan "ya" untuk kisaran atas dari jumlah yang Bapak/Ibu
sebutkan tadi.

* Jika anda sama sekali tidak tertarik dengan gaji yang ditawarkan. Yang harus anda katakan,
"Terimakasih atas tawaran Bapak/Ibu untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya sangat
tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini.
Namun ada beberapa perusahaan lain yang juga memberikan tawaran kepada saya, untuk
posisi yang sama dan gaji yang lebih tinggi. Tentu saja, uang bukan faktor penentu utama, saya
juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti training, jenjang karir,dan sebagainya.

* Pewawancara tidak menyebutkan jumlah kisaran gaji. Yang harus anda katakan, "Dari apa
yang saya ketahui, berdasarkan standar industri, gaji pokok untuk posisi ini adalah sebesar Rp
xxx. Dan berdasarkan pendidikan dan keahlian yang saya miliki, saya mengharapkan gaji pada
middle range, katakanlah Rp yyy. Baagimana menurut Bapak/Ibu ?".

* Jika pewawancara memberikan penawaran di akhir wawancara. Ini berarti pewawancara
sangat tertarik untuk merekrut anda. Yang harus anda katakan, "Saya siap untuk menerima
penawaran terbaik dari perusahaan ini." Dan jika gaji ditawarkan memang seperti apa yang
anda inginkan, katakan, "Hal terpenting bagi saya adalah kesempatan untuk bergabung di
perusahaan ini, dan saya yakin gaji yang ditawarkan sangat kompetitif."

Petunjuk untuk "FRESH GRADUATES".

- Perusahaan memilih anda karena kualifikasi yang dimiliki, bukan gaji yang anda sebutkan.
Perusahaan menerima anda bekerja adalah untuk meningkatkan profit mereka.

- Dalam wawancara, anda harus meyakinkan bahwa anda mampu mengerjakan
tugas/tanggung jawab untuk posisi tersebut. Jika tidak, mereka tidak akan memberikan
penawaran apapun bagi anda.

- Jika anda belum memiliki pengalaman kerja, ingat akan kualitas anda yaitu pendidikan dan
keahlian. Dua hal itulah yang akan membuat anda sukses di dunia kerja.
- Apa yang membuat perusahaan memutuskan menerima anda ?. 95% nya berdasarkan
kepribadian, antusiasme, dan keahlian anda. 5% nya adalah karena keahlian khusus yang anda
miliki.

PERATURAN NO. 4 : Jika Penawaran Resmi Telah Dibuat

Jika penawaran resmi telah dibuat, ajukan pertanyaan sebagai berikut :

- Apakah ada kesempatan promosi untuk posisi ini ?. Untuk posisi atau level apa ?.

- Kapan dan bagaimanakah penilaian kinerja pegawai untuk posisi ini ?.

- Apakah penilaian tersebut termasuk untuk review gaji ?.

- Seperti apakah peningkatan gaji yang ditawarkan untuk 3-5 tahun mendatang ?.

- PASTIKAN BAHWA PENAWARAN GAJI TELAH MENCAKUP KESELURUHAN DAN DALAM
BENTUK TERTULIS.

- PASTIKAN ANDA TELAH MENGEVALUASI KESELURUHAN KOMPENSASI YANG
DITAWARKAN, BUKAN HANYA GAJI.


Selain gaji, biasanya perusahaan juga memberikan kompensasi dalam bentuk :

* Asuransi kesehatan (dengan atau tanpa mencakup perawatan gigi & mata) .Walaupun
perusahaan tidak meng-cover semua biaya, fasilitas ini akan membuat anda membayar lebih
murah.

* Asuransi jiwa.

* Asuransi kecelakaan, terutama untuk pegawai yang sering bepergian/jenis pekerjaan dengan
risiko tinggi.

* Peningkatan gaji untuk 3-5 tahun pertama. Apakah hanya peningkatan pertahun ?. Atau ada
peningkatan gaji/pemberian bonus berdasarkan prestasi kinerja ?.

* Fasilitas cuti.

* Biaya pensiun (berlaku untuk perusahaan tertentu).

* Profit sharing.

* Stock option. Beberapa perusahaan menerapkan sistem pembagian saham kepada
karyawan.

* Training atau pendidikan tertentu.

* Uang lembur & transportasi.

* Fasilitas kredit kendaraan/rumah.

PERATURAN NO. 5 : Hal lain yang harus diperhatikan

- Ucapkan terimakasih atas penawaran yang diberikan.

- Jangan langsung bernegoisasi pada saat pewawancara menyebutkan penawaran. Mintalah
waktu untuk mempertimbangkan kompensasi secara keseluruhan, bukan hanya gaji.

- Pada saat bernegoisasi, jangan katakan, "Saya meminta ...". Yang terbaik anda harus
mengatakan, "Saya mengharapkan..,".


- Terkadang gaji yang ditawarkan mungkin lebih rendah dari yang anda inginkan. Sebelum
meng-iya-kan atau menolak, pertimbangkanlah faktor lain seperti reputasi perusahaan, budaya
perusahaan, suasana kerja, macam asuransi yang ada, training dan pendidikan, dan
sebagainya.

Kamis, 06 Januari 2011

Kiat Lolos dari Tes Wawancara

Banyak orang merasa cemas ketika akan menjalani wawancara kerja. Memang, sebelum dan saat menjalaninya lazim ada tingkat kecemasan yang menganggu. Tentu saja, tingkatan itu berbeda pada setiap orang. Ada orang yang bisa mengendalikan
kecemasannya, ada yang terjebak bahkan gugup tak bisa apa-apa. Anda bagaimana?
Jika Anda merasakan kecemasan luar biasa sehingga tak bisa menunjukkan kemampuan
terbaik saal wawancara, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan agar bisa
tenang atau setidaknya tak terlampau tegang. Berkurangnya ketegangan bisa
membantu mendapatkan percaya diri yang lebih tinggi.

Banyak Berlatih. Suasana asing saat menjalani wawancara atau interview kerja bisa Anda
kurangi jika Anda berlatih wawancara sesering mungkin. Latihan demi latihan yang Anda jalani
membuat Anda lebih siap dan semakin tahu apa yang harus dilakukan dan dikatakan dalam
sebuah interviu. Dengan cara ini, Anda juga jadi lebih tahu kekurangan diri yang lain kali bisa
dihindari atau malah kelebihan yang bisa ditingkatkan.

Melakukan Banyak Persiapan. Persiapkan diri Anda sebaik mungkin sebelum menjalani
interviuw kerja. Persiapan yang dilakukan meliputi pengetahuan, kemampuan, serta
penampilan Anda. Semakin baik Anda mempersiapkan diri semakin besar pula kemungkinan
Anda bisa menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan pewawancara dengan keyakinan
penuh.

Bagian awal dari wawancara merupakan saat yang penting. Jika Anda pada bagian tersebut
sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan keyakinan tinggi, rasa percaya diri Anda
juga akan semakin meningkat. Sebaliknya. jika di bagian awal wawancara kerja Anda sudah
merasa serba salah dan cemas, semakin lama semakin sulit Anda menjawab pertanyaan
pertanyaan selanjutnya dengan baik.

Saat melakukan persiapkan, yakinkan diri tentang tiga hal:

1. Anda bisa melakukan pekerjaan tersebut;
2. Anda bisa menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang akan diberikan, dan;
3. Anda bisa melakukan semuanya dengan baik.

Jangan berpikir pekerjaan itu merupakan yang terbaik. Ketika Anda berpikir bahwa pekerjaan
yang sedang berusaha Anda dapatkan ini merupakan yang terbaik dan kesempatan hanya
datang sekali, tingkat kecemasan yang dirasakan justru akan meningkat. Tak perlu memberikan
penilaian yang berlebihan sebelum Anda benar-benar tahu dan memulai pekerjaan tersebut.

Anda belum tentu akan menyukai pekerjaan yang bahkan belum Anda lakukan. Selain itu,
kesempatan yang lebih baik bisa saja datang kepada Anda di lain waktu. Jadi, lebih baik
bersikap tenang dan santai.

Tak perlu menjawab dengan jawaban sempurna. Memikirkan suatu jawaban yang sempuma
saja tentu sudah membuat seseorang "pusing", belum lagi jika Anda berusaha mendapatkan
jawaban tersebut secara spontan saat pertanyaannya dilontarkan. Hal ini justru akan
meningkatkan kecemasan Anda. Padahal, apa yang menurut Anda sempurna belum tentu
dianggap seperti itu oleh si pewawancara. Cukup siapkan jawaban yang berisi poin-poin
penting yang ingin Anda sampaikan.

Jangan rendah diri. Kecemasan justru bisa semakin meningkat saat pikiran-pikiran rendah diri
memenuhi benak Anda. Hindari pikiran-pikiran negatif seperti "saya tak cukup pintar" atau "saya
kalah hebat dibandingkan kandidat yang lain". Akan lebih baik apabila Anda memusatkan
perhatian pada kelebihan-kelebihan yang Anda miliki. Jangan memenuhi pikiran Anda dengan
persainganpersaingan yang tak mungkin bisa diubah.
Nah, kini Anda telah siap, kan?

Senin, 03 Januari 2011

SANTRI DISURUH NYAI BELANJA KE PASAR?

Pagi-pagi buta, pintu rumah depan sudah terbuka, suara percikan air terdengar ditelinga. Air itu menampakkan aroma warna dipagi hari dan seakan-akan membangunkan semua penghuni rumah itu. Percikan air tersebut, berasal dari kolam ikan didepan rumah. Dan dalam waktu yang bersamaan, seorang perempuan berumur 45 tahun mengambil air wudhu untuk kemudian shalat subuh.
Dengan wajah kantuk di pelupuk mata dan agak bermalas-malasan, perempuan tersebut memaksa diri menjalankan aktifitas kesehariannya sebagai suatu bentuk kewajiban orang tua. Yaitu kewajiban mencari nafkah untuk kemudian diberikan kepada semua anak-anaknya.
Setelah perempuan itu selesai shalat subuh, dia kemudian berangkat kepasar. Namun sebelum itu, Seperti biasa perempuan tersebut memanggil menantunya untuk dimintai tolong nganterin ke pasar. Patut dimaklumi perempuan baya yang tidak bisa naik motor. Pembaca mungkin penasaran siapa perempuan tersebut?.
Perempuan itu, setiap pagi pasti pergi kepasar. Hampir dalam sepekan tidak ada waktu libur baginya. Dia adalah seorang Ibu yang mempunyai 4 anak, dan salah satu dari empat anak itu akan menjadi sorotan pembicaraan dalam tulisan ini. Sedangkan yang mengantar Ibu setiap harinya dengan sepeda motor adalah menantunya sendiri dari anak yang pertama. Setiap pagi sudah menjadi Rutinitas bagi sang Ibu karena mata pencahariannya memang dari hasil jualan barang-barang kebutuhan dapur yang memasok dari pasar untuk kemudian dijual lagi ke tetanga rumah, sekedar menjual kebutuhan dapur setiap harinya. Keren kan!

Suatu ketika seperti biasa sang Ibu pergi kepasar pagi-pagi sekali setelah shalat subuh. Dan disana sangat ramai sekali baik dari para penjual maupun para pembeli. Dan secara kebetulan sang Ibu melihat anaknya lagi membawa barang-barang bawaan yang sangat banyak. Ketika sang Ibu melihat anaknya mau mengarah ke arahnya, ibu itu menegor ke anaknya tentang barang bawaan dan sedang apa pagi-pagi di pasar. Seorang anak tersebut menjawab bahwa dia lagi disuruh Nyai Pesantren untuk belanja ke pasar. Kemudian ibunya membantu anaknya tersebut mencarikan barang-barang yang dipesan oleh Nyai untuk kemudian dibeli, mungkin ibu itu mengira agar anaknya cepet selesai belanja dan lekas-lekas balik ke pesantren.
Setelah belanjaan anaknya selesai sang Ibu langsung cepet-cepet menyuruh anaknya balik lagi ke pesantren biar tidak telat sekolahnya. Dan setelah itu sang Ibu menggerakkan tangannya yang kanan ke dalam saku kiri bajunya. Apa yang diambilnya?
Pembaca yang budiman tahukah apa yang terjadi dibalik cerita tersebut? Yang terjadi adalah anak tersebut mendapatkan keuntungan 100%. Mengapa? anak tersebut ternyata tidak disuruh belanja oleh Nyai-nya, melainkan belanjaan tersebut untuk dirinya sendiri. Maklum beberapa hari sebelumnya anak itu dikirim uang oleh bapaknya plus ditambah uang dari ibunya ketika belanja yang diambil dari saku karena ibu itu merasa bangga pada anaknya telah berbakti di pesantren.

Minggu, 02 Januari 2011

TIDAK MAU DI SURUH-SURUH

Ini adalah sebuah kisah unik, menarik, dan cocok untuk semua usia, karena kisah inilah yang akan mengantarkan ingatan kita semua, menuju memory-memory yang sempat hilang dari ingatan kita pada waktu masih muda, bahkan ketika kita masih belia. Kisah unik ini, menceritakan tentang seorang anak yang sedang mencari-cari jati dirinya, hanya dengan modal,”sebuah keberanian,”.
Seorang anak yang akrab dengan panggilan Adie ini, datang dari keadaan ekonomi menengah kebawah, kehidupannya semasa itu lebih banyak dipengaruhi oleh dua faktor lingkungan; pertama, lingkungan orang tua, sehingga membentuk sebuah karakter yang mendarah daging, sebagian hal itu terpaksa tidak disukainya. Kedua, oleh lingkungan pertemanan, diwaktu kecil Adie banyak menyibukkan dengan banyak permainan yang tidak ada unsur edukatifnya sama sekali.
Pembaca mungkin penasaran siapa sebenarnya Adie ini?, sampai-sampai segitunya diceritakan sebagai sebuah kisah yang unik, menarik, dan sangat cocok untuk semua usia. Pembaca tidak perlu khawatir, karena pembaca tidak akan rugi dengan bertanya seperti itu, justru sebuah keberuntungan besar saat ini telah berpihak pada pembaca karena telah membuat sebuah pertanyaan yang sangat brilian tersebut. Untuk menjawab pertanyaan pembaca yang sangat bagus, siapa sebenarnya Adie ini?, silahkan lanjutkan bacaan pembaca.
Sebenarnya aku sangat setuju dengan pembaca, siapa Adie ini?, tetapi akan menjadi bingung nantinya kalau aku tidak tahu sama sekali, siapa sebenarnya Adie ini?. Dan hal ini benar-benar membuatku bingung, karena memang pada dasarnya aku tidak tahu siapa sebenarnya Adie ini?. Oleh karena itu agar penulis dan pembaca tidak menemukan kebuntuan, kisah tentang seorang anak yang bernama Adie ini yang akan diceritakan sebagai seseorang yang unik, menarik, dan cocok untuk semua kalangan, sebenarnya adalah aku. Adie adalah aku. Dan aku adalah seorang penulis. Cerita ini adalah sebuah cerita masa laluku yang dibingkis seadanya dan disampaikan kepada pembaca juga apa adanya, aku yakin pembaca juga setuju bahwa kita semua tidak akan melihat bingkisannya, dan juga tidak akan melihat siapa yang menyampaikannya, melainkan kita semua setuju bahwa apa yang dilihat oleh kita adalah tidak lain kualitas atau muatannya daripada penyampaian tersebut.
Cerita ini dimulai dari sebuah peristiwa, saat itu aku menunggu kelulusan SDN Sumber Lesung Lao’, salah satu Sekolah Dasar didaerah tempatku tinggal. Kalau ditempuh dengan jalan kaki kira-kira bisa menghabiskan waktu sekitar 20 menit lamanya. Waktu itu, beberapa hari sebelum pengumuman kelulusanku, terjadi sebuah peristiwa yang sangat terngiang sekali ditelinga sampai bertahun-tahun lamanya, peristiwa itu tetap teringat seolah menggema ditelingaku dan tidak bisa dilupakan.
”Adie, belikan Ibu cabe dan tomat diwarung Bu Ria,” kata Ibuku dengan suara yang lantang sekali dari dapur.
Aku yang berada diruang tamu sambil dengan asyiknya menonton Televisi, diam aja tidak menggubris sama sekali. Dan memang aku sengaja tidak ingin membeli Cabe dan Tomat tersebut, karena aku lagi sedang asyik-asyikya menonton. Namun, selang beberapa lama, tiba-tiba Ibu datang ke ruang tamu dan bilang,”Adie cepet belikan Ibu Cabe dan Tomat....!nih, mau buat sambel buat makan bapakmu dan kamu juga,” setelah itu Ibu kembali ke dapur melanjutkan aktivitasnya sebagai juru masak yang handal dan kesukaan keluarga.

Sedangkan diriku, tetap aja asyik dengan tontonannya yang menggiurkan, karena memang hari ini adalah hari libur, so banyak acara-acara kartun yang bagus-bagus dan menarik. Satu patah kata pun aku tidak menjawab suruhan Ibu, aku lebih memilih meleburkan diri dalam keasyikanku sendiri, sampai akhirnya tiba waktunya pada panggilan yang ketiga, kata Ibu,”Adie cepet belikan Ibu cabe dan tomat, nanti Ibu bilangin ke bapakmu kalau masih tidak mau!,” dengan suara yang lantang dan nada yang marah Ibu menyuruhku cepet-cepet membelikan cabe dan tomat. Entah kenapa dasar memang diriku yang malas dan bandel mungkin, sehingga aku tidak mau sama sekali untuk disuruh oleh Ibu, padahal ujung-ujungnya, aku juga makan.

Nah, setelah panggilan ketiga baru aku tanpa sadar, entah datangnya dari mana tiba-tiba bapakku dengan membawa potongan bambu yang panjang, aku tidak sadar dan tidak menyangka akan menimpa diriku, dan dari belakang tiba-tiba tanpa pikir panjang bapak memukul dan mengenai punggungku dari belakang dengan potongan bambunya tersebut. Seketika itu aku terpental dan terjatuh ke depan televisi, hampir mengenai televisi tersebut. Dan tanpa aku ingat lagi dengan remang-remang Ibuku datang menyela apa yang diperbuat oleh bapakku, dan kata Ibu,”jangan mukul keterlaluan kayak gitu, Ti!” kata Ibu, memanggil nama bapakku dengan wajah kasihan padaku. Sedangkan diriku, karena tahu akan dibela oleh Ibuku sendiri, langsung mengambil kesempatan pertengkaran ibu dengan bapak dengan masuk kekamarku dan menguncinya dari dalam.
Didalam kamar, dengan tangisan yang lumayan dahsyat bagi seorang anak seusia diriku pada waktu itu, dan aku masih mendengar Ibu dengan bapak bertengkar didapur, pertengkaran mereka semakin ku dengar semakin menggema ditelinga. Namun, dari sekian item pertengkaran mereka, anehnya tidak ada satupun yang aku fahami, mungkin karena diriku kesakitan dan melantangnya tangisanku, tetapi ditengah-tengah pertengkaran tersebut hanya satu yang aku ingat dari pertengkaran mereka yaitu pernyataan Bapak yang sangat tidak bisa aku lupakan, ” makanya kalau punya anak itu jangan seperti Adie, sudah bodoh, disekolah tidak bisa mendapatkan peringkat sama sekali, bandel dan tidak mau disuruh-suruh sama orang tua,” kata Bapak...!dengan nada yang kesal menghina diriku yang tidak lain adalah anaknya sendiri.
Pernyataan Bapak itulah yang tidak bisa aku lupakan sampai bertahun-tahun dan membekas didalam memoryku, hal ini mengakibatkan diriku berjanji akan membuktikan kepada orang tuaku, terutama kepada Bapakku yang telah menghina diriku bahwa aku bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta bisa mendapatkan peringkat yang istimewa. Sambil terisak-isak dan mengusap tangisanku, aku berniat yang bulat sebulat bola dalam hatiku; ak harus bisa membuktikan pada orang tua.....bahwa aku bisa menjadi orang yang diinginkan mereka, eh, tanpa disadari ditengah-tengah tangisanku, aku terlelap dalam dunia fana dan meleburkan diri serta menikmati tidurku. Mungkin karena diriku habis dipukul dan dimarah-marahin dengan sedemikian rupa sehingga membuat diriku terlelap dalam lamunan, entah apa yang dilamunkan, tetapi yang jelas apapun itu, semuanya bisa membantuku menghilangkan kesedihanku sementara.
Sementara itu, ketika keheningan datang padaku, dengan nada merayu Ibuku dari balik pintu mengetok dan mengatakan sesuatu yang indah padaku, kata Ibu,”Adie, bangun Nak, dah malam, mau makan apa tidak?”, ketika itu aku mencoba mencari-cari suara itu datangnya dari mana, eh ternyata aku sudah bangun dengan perut keroncongan, dan secara kebetulan Ibu bilang belum makan. Aku memanfaatkan kesempatan itu,” Aku tak mau makan, kalau tidak disuapin?” kataku dengan manjanya seorang anak pada Ibunya.
”ya, ini sudah aku siapin, cepet buka pintunya,” balas Ibu dengan nada kasihan pada anaknya yang seharian tidak makan karena didalam kamar sambil menangis.

Sabtu, 01 Januari 2011

REMAJA 13 TAHUN MASUK PESANTREN

Kisah ini menceritakan sebuah peristiwa tentang asmara seorang remaja yang terjadi di belakang Pasar Kalisat. Dibelakang pasar Kalisat ada sebuah pesantren yang bernama PP. Miftahul Ulum. Disana terdapat ratusan santriwan dan santriwati bahkan ribuan. Mulai dari penduduk asli Kalisat sampai dari luar daerah, dimana para orang tua memasrahkan anak-anaknya untuk nyantri dipesantren tersebut.
Jember adalah sebuah Kabupaten diujung timur Jawa sebelum Banyuangi. Disana ada ratusan Kecamatan, salah satunya Kecamatan Kalisat. Daerah Kalisat terdapat satu pasar yang dibelakangnya ada sebuah pesantren. Nama pesantrennya seperti yang sudah saya sebutkan diatas.
PP. Miftahul Ulum merupakan pesantren semi-modern dari salah satu pesantren yang ada di Kabupaten Jember. Pelajaran-pelajaran agama yang diajarkan ke para santri, ada yang menggunakan sorogan ada pula yang memakai klasikal. Dari pagi, sampai menjelang jam 12 malam, hampir-hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk bermain bagi para santri. Semua waktu, diisi dengan aktifitas proses belajar mengajar. Dan hanya menyisakan istirahat untuk makan. Dan pesantren tersebut diasuh oleh seorang Kiai yang bernama Drs. Kiai. Ahmad Rasyidi, Msi dan beberapa saudara beserta Ustadz-ustadz yang membantunya. Semua berperan sesuai dengan fungsinya sendiri-sendiri, begitu juga dengan anak asuhnya, yaitu santri yang menetap disana, berfungsi sebagai pelajar yang harus menimba ilmu. Didalam pesantren seperti layaknya lembaga-lembaga pendidikan lain terdapat sejumlah peraturan yang harus ditepati dan ditaati. Jika diantara sejumlah peraturan ada salah satu dari kalangan santri melanggar, maka akan terkena sangsi dari para pengurus pesantren tersebut.
Peraturan-peraturan tersebut dibuat agar para santri bisa beradabtasi, mematuhi, memelihara, dan menjaga stabilitas aktifitas di pesantren. Namun, ada statmen yang mengatakan ”paturan-peraturan itu untuk dilanggar”, (pernyataan ini muncul ketika udah menjadi mahasiswa tentunya). Menjadi tidak asing lagi dikalangan pesantren ketika peraturan-peraturan yang menimpa kepada salah satu santri yang melanggar, terutama didalam pesantren Miftahul Ulum Kalisat. Mereka menjadikannya sebagai sebuah fenomena yang sudah biasa. Berbeda halnya dari sebagian santri yang lain menganggap hal seperti itu sebagai sebuah aib yang harus dihilangkan dan ditebus dengan meminta maaf kepada pemilik pesantren dan berjanji didepan seluruh para santri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan pesantren lagi.
Miris sekali dan tidak bisa dipungkiri. Ternyata didalam pesantren tersebut sejumlah santri, yang setiap tahunnya pasti ada yang melanggar peraturan-peraturan pesantren. Mulai dari pelanggaran yang ringan sampai pada hal-hal yang berat. Hal seperti ini, memang banyak ditemukan di berbagai pesantren dan lembaga-lembaga formal lainnya. Namun, pembaca harus tahu bahwa tulisan ini tidak untuk menjelaskan persoalan-persoalan pesantren. Dalam tulisan ini penulis mengajak para pembaca melihat perkembangan anak yang mungkin belum sempat dianalisa oleh para peneliti, bahkan para pembaca pun mungkin melupakan yang satu ini.
Benar sekali pendapat yang mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungannya. Sekarang saya ingin mengajak pembaca melihat perkembangan anak di usia remaja, yang setiap harinya menghabiskan waktu di pesantren. Kalau pembaca pernah nyantri atau punya teman yang pernah nyantri tentunya pembaca akan tahu bagaimana nasibnya perkembangan santri di usia remaja. Namun, apabila pembaca belum pernah tahu bahkan sekedar mendengar kata santri pun pembaca belum, maka sangat disayangkan. Saran saya pergilah ke gunung yang dibawahnya ada laut, dan dari atas gunung tersebut pembaca bisa dengan senang hati meloncat kebawah karena tidak pekanya terhadap lingkungan (heee bo’ong kali).
Perkembangan anak-anak di usia remaja di kalangan pesantren perlu mendapat perhatian khusus. Terlepas dari nilai positif maupun negatif terhadap perkembangan anak. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan pesantren. Saya ingin mengajak pembaca melihat subjektifitas fakta di pesantren. Mari kita lihat perkembangan salah seorang santri yang bernama ”Addy”. Apa yang dilakukannya untuk menghabiskan waktu di usia remajanya dipesanren? Apakah Addy ini benar-benar menghabiskan waktu untuk diisi dengan aktifitas belajar? Atau ada hal lain yang dikerjakannya?.
Apabila pembaca memiliki eksistensi seperti apa yang menimpa pada seorang anak yang bernama Addy, maka menjadi wajar, karena semua manusia pasti mempunyai pengalaman-pengalaman unik dalam hidupnya. Apalagi kalau sudah membicarakan asmara dengan lawan jenisnya. Namun, apabila pembaca tidak sama eksistensinya dengan apa yang diperankan oleh Addy, maka pembaca adalah salah satu sosok makhluq yang mungkin menyerupai malaikat.
Kepada pembaca sebelum saya ceritakan apa yang dilakukan Addy, alangkah baiknya kalau pembaca mengambil wudhu terlebih dahulu. Karena dikwatirkan pembaca juga terlarut dalam peristiwa yang menimpa Addy. Nanti, bisa-bisa pembaca mengambil hikmah oops mempraktekkan apa yang dilakukan Addy. Apalagi pembaca masih seumuran jagung. Eh ia, lebih-lebih pembaca itu salah satu santri mana gtu, kan nantinya saya mengajak pembaca pada mungkarat. Hehe